Perlu diakui bahwa, meskipun Capaian Pembelajaran (CP) telah ditetapkan sebagai fondasi utama Kurikulum Merdeka, penerapannya di lapangan masih menghadapi tantangan nyata. Fakta menunjukkan bahwa sebagian besar guru masih menjadikan buku teks sebagai “kitab suci” perencanaan pembelajaran—tanpa memastikan terlebih dahulu apakah materi yang diajarkan benar-benar selaras dengan CP. Akibatnya, fokus pembelajaran sering kali bergeser dari membangun kompetensi menjadi sekadar menuntaskan halaman buku. Tidak jarang, materi yang diajarkan justru tidak termuat dalam CP, sementara kompetensi esensial yang seharusnya menjadi prioritas malah terabaikan. Ini bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan penyimpangan dari semangat Merdeka Belajar itu sendiri.
Masalah ini diperparah oleh terbatasnya pemahaman guru terhadap struktur, filosofi, dan penerapan operasional CP—ditambah minimnya pendampingan berkelanjutan setelah pelatihan awal. Banyak pendidik masih memandang CP sebagai formalitas administratif yang cukup “ditulis di RPP”, bukan sebagai kompas hidup yang mengarahkan setiap keputusan di kelas. Padahal, CP justru dirancang untuk membebaskan guru dari kekakuan silabus dan mengajak mereka menciptakan pembelajaran mendalam (deep learning) yang:
- Berkesadaran—siswa belajar dengan tujuan, refleksi, dan keterlibatan penuh;
- Bermakna—materi terhubung dengan kehidupan nyata dan pengalaman pribadi;
- Menggembirakan—ruang kelas menjadi tempat aman untuk bereksplorasi, berani salah, dan tumbuh bersama.
Ketika CP benar-benar dipahami dan dihayati—bukan hanya dikutip—guru bertransformasi dari “penyampai materi” menjadi arsitek pengalaman belajar. Mereka bisa merancang kegiatan yang mengajak siswa berpikir kritis, bekerja kolaboratif, dan merefleksikan proses belajarnya secara sadar. Materi dipilih bukan karena ada di buku, tetapi karena relevan, esensial, dan memicu rasa ingin tahu. Kelas pun berubah: dari ruang yang menekan menjadi wahana yang menggembirakan, dari tempat menghafal menjadi arena memahami.
Untuk mewujudkan hal ini, perencanaan pembelajaran harus merujuk pada dokumen resmi yang telah disediakan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP). Dua dokumen utama yang menjadi acuan kuat adalah:
- Peraturan Kepala BSKAP No. 046 Tahun 2025, yang memuat Capaian Pembelajaran untuk seluruh mata pelajaran dari Fase A hingga Fase F (dan Fase F lanjutan);
- Panduan Mata Pelajaran, yang disusun khusus untuk setiap fase dan mata pelajaran, berisi penjabaran CP, pemetaan materi esensial, serta panduan praktis untuk merancang pembelajaran mendalam.
Dokumen-dokumen ini bukan sekadar arsip, melainkan peta jalan yang membantu guru dalam:
- Merumuskan tujuan pembelajaran yang selaras dengan CP,
- Menyusun alur tujuan pembelajaran yang koheren dan kontekstual,
- Merancang pembelajaran yang berpusat pada murid, bermakna, dan menggembirakan.
Dengan kembali pada CP—bukan pada buku teks—kita tidak hanya mengajar sesuai kurikulum, tetapi menghidupkan visi pendidikan yang utuh, manusiawi, dan penuh makna.
Wassalam
Karang Baru, 8-11-2025
Pak DZ